TOKOH TOKOH KALAM INDONESIA ( HARUN NASUTION )

 

MAKALAH ILMU KALAM

TOKOH KALAM KALAM INDONESIA (Harun Nasution)

Dosen Pengampu : Abdurrouf, MA

 



 

 

Disusun oleh;

Faruq Aulyan Syaifil Hikam

Haikal Hamdi AlRasyid

 

 

FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT PERGURUAN TINGGI AL QUR’AN JAKARTA

TAHUN AKADEMIK 2020-2021

 

 

                                                                             


KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas segala karunia dan rahmatnya, sholawat serta salam juga semoga tercurah kepada junjungan alam baginda Nabi besar Muhammad SAW. Denga tersusunnya maklah ini kami bersyukur karean dapat menyelesaikan tugas pembuatan malah dalm mata kuliah ilmu kalam. Namun dibalik semua itu kami pun menyadari jika masih banyak kekurangan yang terdapat didalam makalah ini.

Setidaknya kami akan sedikit membahas materi dari mata kuliah ilmu kalam dengan judul Tokoh Kalam Kalam Indonesia. Mudah – mudahan dapat dimengerti dan dipahami bersama.

 

Jakarta, Oktober  2020

 

 

                                                                                                                           Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR                                                                                                  i

DAFTAR ISI                                                                                                                ii

BAB I                                                                                                                            1

PENDAHULUAN                                                                                                      1

1.      Latar Belakang                                                                                                  1

2.      Rumusan Masalah                                                                                             1

3.      Tujuan Masalah                                                                                                 1

 

BAB II                                                                                                                           2

PEMBAHASAN                                                                                                         2

A.    Tokoh Kalam Kalam Indonesia                                                                        2

B.     Biografi Harun Nasution                                                                                   3

C.     Fokus Dan Pemikiran                                                                                        4

D.    Corak Pemikiran                                                                                               5

 

BAB III                                                                                                                         6

PENUTUP                                                                                                                   6

Kesimpulan                                                                                                              6

Saran                                                                                                                       6

 

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                7

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.      Latar Belakang

 

Setelah kita mengetahui dan memahami apa itu ilmu kalam sendiri, lalu kita mengenal berbagai istilah – istilah atau pembahasan yang ada didalamnya seperti khawarij, syiah, murjia, jabariah, qodariah, muktazilah, asy’ariah, maturidiah. Dan kita pun telah mengenal beberapa tokoh kalam baik dari gololngan salafi hingga tokoh kalam modern.

 

Maka sekarang kita akan mengenal beberapa tokoh yang berasal dari negri kita Indosesia.Perlu rasanya memang untuk mengenal para took – tokoh kalam setelah kita memahami dan mengetahui ilmu kalam itu sendiri. Agar kita dapat lebih bias membaca sejarah bagimana keadaan ilmu kalam dahulu ataupun bagaimana para tokoh – tokoh ini melahirkan, memahami, atau mengajarkan pada halayak.

 

 

2.      Rumusan Masalah

 

a.       Siapa tokoh kalam Indonesia ?

b.      Bagaimana profil seorang Harun Nasution?

c.       Seperti apa  Ia mengenalkan kalam?

 

3.      Tujuan Masalah

 

a.       Mengenal dan mengetahui tokoh kalam Indonesia

b.      Mengenal dan mengetahui sosok Harun Nasution

c.       Mengetahui dan menegerti posisi ilmu kalam di Indonesia

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

 

A.    Tokoh-tokoh Kalam Indonesia

Beberapa tokoh yang mempengaruhi perkembangan kalam di Indonesia, disamping mereka menjadi tolak ukur perkembangan kalam, mereka juga menjadi ke khas an dari kalam ala Indonesia. Selain dari adanya organisasi-organisasi yang juga ikut mewarnai perkemabangan kalam di Indonesia.

Beberapa organisasi dan para tokoh kalam Indonesia  menjadi bagian dan alasan dari perkembangan kalam dan keagamaan yang ada dinegara ini. Para tokoh dan organisasi yang memiliki keragaman inilah yang kemudian menjadi titik temu perkembangan kalam Indonesia.

Maka adapun para tokoh kalam Indonesia adalah yang akan sedikit kami paparkan dan gambarkan dengan masing-masing bidang fokusnya. Tokoh kalam Indonesia yang pertama adalah;

·         Harun Nasution

Seorang tokoh kalam Indonesia yang yang memberikan perubahan dan warna berbeda dalam pemikiran Islam Indonesia.  Adalah mengenalkan pemikiran Mu’tazilah kepada masyarakat intelektual Indonesia.

·         KH. Hasyim Asy ‘ari

Seorang tokoh kalam Indonesia sekaligus pendiri  Nahdhotul Ulama yang condong pada pemikiran  Asy’ariyah yang fleksibel. Seperti pemahmannya pada Al Qur’an dan hadis yang tidak mungkin mammpu memahami maksud yang haiqiqi dari keduanya tanpa mempelajari pendapat para ulama besar dalam sisitem madzhab.

·         HM. Rasyidi

Pemikiran kalam tentang perbedaan ilmu kalam teologi , beliau berpendapat dan menolak  pemikiran Harun Nasution yang menyamakan antara pengertian ilmu kalam dan teologi. Beliau berkata ada kesan  bahwa ilmu kalam adalah tilogi Islam dan dan teologi adlah ilmu kalam Kristen.

 

 

 

·         Nurcholis Majid

Pemikirannya yang bahwa keduanya anatara ilmu dan ajaran sesungguhnya secara nyata ada dalam kehidupan manusia dan mempengaruhi masyarakat. Sedangkan mengenai Agama dan Kemanusiaan beliau berpendapat jika sebenarnya agama tetap bersifat kemanusiaan karena agama mempunyai tujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan.

 

 

B.     Biografi Harun Nasution

Pada kesempatan kali ini kami hanya akan membahas atau sedikit mengenal salah satu sosok tokoh kalam Indonesia yaitu, Harun Nasution. Seperti siapa Harun Nasution, seperti apa pemikiran Harun Nasution dsb.

Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Provinsi Sumatra Utara pada 23 September 1919. Ayahnya adalah seorang pedagang asal Mandaling sekaligus dikenal sebagai qadhi atau penghulu.

Sejak kecil Harun Nasution sudah mengecap pendidikan modern, selain itu tentu saja mendalami agama Islam. Ia menuntaskan sekolah dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School) yang kala itu dibentuk pemerintah colonial untuk anak-anak pribumi. Lalu ia melanjutkan studi ke Moderne Islamietische Kweekschool (MIK) di Bukittinggi.

Namun ayah dan ibunya khawatir akan pendidikan di sekolah tersebut, lantas mengirimnya ke Mekkah. Saat di Mekkah ternyata ia merasa tidak cocok tinggal di Arab Saudi yang kala itu di mata seorang Harun Nasution muda Mekkah masih agak terbelakang.

Maka pindahlah kembali ia ke Mesir untuk melanjutkan studi nya. Dan disanalah ia mulai mendalami Islam di fakultas Ushuluddin di Universitas Al Azhar. Lalu di Universitas Amerika (Kairo) untuk mendalami pendidikan ilmu-ilmu social[1]

 

C.    Fokus Dan Pemikiran

Salah satu fokus seorang Harun Nasution adalah hubungan antara akal dan wahyu. Ia menjelaskan bahwa hubungannya wahyu dan juga akal menimbulkan pertanyaan,tetapi keduanya tidaklah bertentangan[2]. Wahyu dan akal keduanya merupakan dua entitas yang sebenarnya tidak perlu dipertentangkan seacara diametral.

Seperti hal nya pula sejatinya tidak akan terjadi perdebatan diantara manusia tanpa didasari dengan adanya perbedaan pendapat dalam membahas sebuah persoalan. Telah dibahas oleh Harun Nasution dalam bukunya yang berjudul Teologi Islam, bahwa sejarah timbulnya persoalan-persoalan teologi dalam Islam, awalnya adalah persoalan politik yang akhirnya  merambat pada persoalan-persoaln teologi (ilmu kalam) yang kemudialn melahirkan persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dan persoalan-persoalan ilmu kaam lainnya.[3]

Bagi Harun Nasution, mempergunakan akal adalah salah satu dasar dalam beragama Islam. Iman seseorang tidak akan sempurna jika tidak didasari pada akal. Dalam Islam lah menurutnya, agama dan akal pertama kali bisa berdampingan.

Harun justru selalu memadukan wahyu dengan akal selaku keduanya adalah dua unsur utama yang saling melengkapi. Ia meyakini, Al Qur’an sebagai wahyu Allah memandang akal sebagai . sesuatu yang sangat penting, Akal, menurut Harun amat berguna bagi manusia untuk memmbedakan mana kebaikan dan mana keburukan dan hal-hal yang termaktub dalam kitab suci.

Dan juga dalam pandangannya dimana akal digunakan sebagai daya berfikir untuk sampai kepada Tuhan sekaligus memberikan penjelasan lebih rinci terhadap informasi dan pernyataan wahyu. Dan Wahyu tidak akan berfungsi tanpa adanya akal pikiran, begitupun juga akal, ia akan kehilangan arah tanpa bimbingan wahyu.

 

D.    Corak Pemikiran

Sedangkan untuk corak pemikirannya, dapat diketahui jika coraknya adalah seperti pemikiran Mu’tazillah. Mu’tazillah dalam menyelesaikan suatu persoalan lebih banyak menggunakan akal ketimbang wahyu. Dan juga pada saat ia menjadi rector IAIN, dengan menandai bermulanya pemikiran-pemikiran Mu’tazillah[4].

Ia lebih banyak menggunakan atau cenderung menggunakan akal. Akal digunakan sebagai daya pikir untuk sampai pada tuhan sekaligus memberikan penjelasan lebih rinci terhadap informasi dan pernyataan wahyu. Dan Wahyu tidak akan berfungsi tanpa adanya akal pikiran, begitupun juga akal, ia akan kehilangan arah tanpa bimbingan wahyu.

Mengenai peranan akal yang menurutnya akal melambangkan kekuatan manusia, karena dengan akal manusia mempunyai kesanggupan untuk menaklukan kekuatan makhluk lain.

 

  

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Dari sedikit apa yang telah dipaparkan diatas, dapat kita simpulkan dan lengkapi bahwa Harun Nasution salah satu tokoh kalam Indonesia yang lahir pada tanggal 23 Sepetember 1919 di Pematang Siantar Provinsi Sumtra Utara. Dengan fokusnya anatar akal dan wahyu.Yang menyelasaikan studinya di Mesir tahun 1952.

1953-1960 bekerja untuk Departemen Luar Negeri RI, berugas di Belgia dan Mesir.

1968 meraih gelar doctor dari universitas McGill Kanada, mengangkat teori Mu’tazillah (Teori keislama berdasarkan akal).

1973 menjabat sebagai rector IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

18 September 1998 meninggal dunia di Jakarta pada usia 79.

 

SARAN

Sampailah kita pada ujung pemaparan dalam makalah ini, tentu tak  da sesuatu yang sempurna. Kami mohon maaf atas segala kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini. Baik dari penulisan, penyusunan, atau pemaparan materi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Elmansyah. 2017 . Kuliah Ilmu Kalam : Formula Meluruskan Keyakinan Umat Di Era Digital, Pontianak, IAIN Pontianak Press.

Candra Diki. 2018. Akal Dan Wahyu :  Telaah Atas Pemikiran Kalam Harun Nasution, Pontianak.

www.Kompasiana.com : 16.00 WIB

www.osf.io  : 16.15 WIB

www.tirto.id  : 16.20 WIB



[1] Elmansyah, Kuliah Ilmu Kalam : Formula Meluruskan Keyakinan Umat Di Era Digital (Pontianak : IAIN PontianakPress, 2017), hlm. 173.

[2] Elmansyah, Kuliah…, hlm. 173.

[3] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran – Aliran, Seajarah, Analisa, dan Perbandingan (Jakarta :UI Press 1986), hlm. 8.  

[4] Diki Candra, Akal dan Wahyu : Telaah Atas Pemikiran Harun Nasution (Pointianak 2018 hal, 85).

Posting Komentar

0 Komentar