MAKALAH ILMU KALAM
ALIRAN JABARIYAH
Dosen Pembimbing
Abdurrauf, M.Hum
DISUSUN OLEH :
Badruz Zaman
Abu Anip
Hamrani
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN
JAKARTA
2019/2020
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil’alamin,
puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat
iman nikmat islam nikmat sehat wal afiat kepada kita sehingga kita dapat menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah Ilmu
Kalam. Shalawat teriring salam mari kita haturkan kepada junjungan nabi besar kita nabi Muhammad
SAW beserta para keluarganya, para sahabatnya, para pengikutnya yang setia mudah mudahan kita termasuk pengikutnya yang
setia hingga Yaumil Qiyamah. Dalam kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terimakasih kepada para teman teman yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penulisan makalah ini semoga Allah senantiasa membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari bapak Abdurrauf, M.Hum selaku dosen mata kuliah ini guna perbaikan untuk kelanjutannya. Dan terimakasih kepada teman–teman kami yang telah ikut membantu dalam
penyusunan makalah ini semoga mendapat balasan yang dari Allah SWT. Harapan kami semoga Makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
|
Jakarta, 2020 |
|
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Jabariyah
............................................................................. 3
B. Perkembangan dan
Tokoh Jabariyah ............................................................ 4
C. Argumen Jabariyah ....................................................................................... 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Persoalan aqidah agaknya merupakan
aspek utama dalam ajaran islam ysng didakwakan oleh Nabi Muhammad. Pentingnya
masalah aqdah ini dalam ajaran islam tampak jelas pada misi pertama Nabi ketika
berada di Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh
perhatian yang cukup kuat dbandingkan persoalan syari’at, sehingga tema sentral
dar ayat-ayat Al Quran yang turun dalam periode ini adalah ayat--ayat yang
menyerukan masalah keimanan.
Berbicara masalah aliran pemkiran
dalam islam berart berbcara tentang ilmu kalam. Ilmu kalam secara harfah
berarti “kata-kata”. Kaum teolog islam berdebat dengan kata-kata dala
mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebaga
mutakallim yaitu ahli debat yang pintar
mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi islam atau ushuluddin,
ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dar agama.
Perbedaan teologis dikalangan umat
islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis.
Secara teoritis , perbedaan itu demkan tampak melalui perdebatan aliran-aliran
kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Tetapi patut dcatat bahwa
perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan
keesaan Allah, keimanan kepada para rosul, malaikat, hari akhir dan berbagai
ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya.
Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran, yaitu mu’tazilah,
Khawarij, Jabariyah, dan Qodariyah serta aliran lainnya.
Makalah ini akan mencoba menjelaskan
aliran Jabariyah beserta tokoh tokoh yang membentuk dan menyebarkan aliran
Jabariyah dan juga bagiamana pemahaman aliran Jabariyah yang dijelaskan dengan
ringkas disini.
B. Rumusan
Masalah
1.
Latar
Belakang Jabariyah
2.
Tokoh
aliran Jabariyah
3.
Pemahaman
Jabariyah
C. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui Latar Belakang Jabariyah beserta pemahaman firqohnya. Juga mengetahui tokoh-tokoh besar dalam aliran Jabariyah serta bisa membedakan antara paham jabariyah dan Qodariyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang Jabariyah
Nama Jabariyah berasal dari kata “jabara”
yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Dalam
bahasa Inggris, Jabariyah disebut fatalisme, yaitu paham yang
menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan
qadar Tuhan. Imam Al-Syahrasytani memaknai al-Jabr dengan “nafy al-fi’l
haqiqatan ‘an al-abdi wa idhāfatihi ilā al-Rabb” (menolak adanya perbuatan
dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah SWT.).[1]
Dari penjelasan singkat di atas
dapatlah dipahami bahwa nama Jabariyah disangkut pautkan pada pengertian
manusia dalam perbuatannya tidak mempunyai inisiatif sedikit pun. Dengan kata
lain manusia dalam paham ini terikat bukan pada kehendak dan kemauan serta
inisiatifnya sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Oleh sebab itu
aliran Jabariyah ini menganut paham bahwa manusia tidak mempunyai ke
Berbeda dengan Qadariyah, maka
Jabariyah menganut paham bahwa manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan
terpaksa, yang memang sejalan dengan makna kata jabara di atas. Dalam istilah
Inggris paham ini disebut fatalism atau predestination. Bila aliran Qadariyah
dengan paham free will dan free act yang dimunculkannya sulit ditentukan awal
kemunculannya, aliran Jabariyah dengan paham fatalisnya agaknya dapat dengan
mudah ditelusuri.
Agaknya tidaklah
berlebihan bila dikatakan bahwa paham Jabariyah ini sebenarnya sudah muncul di
kalangan bangsa Arab sebelum agama Islam datang. Secara sangat indah, Ah mad
Amin menggambarkan kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir
Sahara yang justru memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Di
tengah Bumi yang diterikkan oleh Matahari dengan air yang sangat sedikit. Udara
kering yang tidak memberi kesempatan tumbuhnya te tumbuhan dan suburnya
tanaman. Di sana sini hanya tumbuh rumput keras, dan beberapa macam pohon yang
cukup kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.
Di hadapan alam yang begitu ganas,
alam yang indah tetapi kejam, jiwa dekat kepada dzat yang bersifat pengasih dan
penyayang. Dekat pula kepada dzat pembina, pemberi. Bentuk, kepada dzat
pemelihara dan pelindung.” Pada hakikatnya kesunyian Sahara ini dapat mengisi
rasa keagungan kepada jiwa yang bersih dan lebih bersih lagi. Tak ada benda satu
pun yang terjadi karena tangan manusia, semua dalah ciptaan Tuhan.8 Dari kutipan yang agak panjang di atas dapat
disimpul kan bahwa ketergantungan kepada alam Sahara yang ganas telah
mencuatkan sikap penyerahan diri terhadap alam. Mereka tidak banyak melihat
jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka
sendiri. Inilah yang menyebabkan timbulnya kesadaran dalam diri mereka bahwa
mereka sebenarnya adalah orang lemah dan tak berkuasa menghadapi kesukaran
hidup yang ditimbulkan suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka
banyak tergan tung pada kehendak alam. Inilah yang menyebabkan hidup suburnya sikap hidup fatalistis atau
jabariyah di kalangan bangsa Arab. Ketika Al-Qur'an turun ke tengah-tengah me
reka, ternyata ayat-ayat Al-Qur'an itu sendiri ada yang boleh membawa kepada
paham Jabariyah.
Jabariyah dan
Qadariyah merupakan aliran Ilmu Kalam yang saling
berlawanan satu sama lainnya, yang kemunculannya terkait dengan perbuatan manusia dan perbuatan
Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan tentunya mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Persoalannya,
sampai di manakah manusia bergantung kepada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan
dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah manusia diberi kebebasan untuk mengatur
hidupnya, ataukah manusia terikat pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan?
Persoalan inilah yang memunculkan lahirnya aliran Jabariyah dan Qodariyah.
Pada persoalan di atas, kaum Jabariyah
berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan untuk
menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia langsung
terikat oleh kehendak mutlak Tuhan. Menurut mereka segala perbuatan manusia
telah ditentukan oleh Qadha dan Qadar Allah. Artinya, setiap perbuatan yang
dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tetapi diciptakan oleh
Tuhan dengan kehendak-Nya. Oleh karenanya manusia tidak mempunyai kebebasan
dalam berbuat, manusia menjadi terpaksa dan tidak memiliki kemampuan. Dalam hal
ini manusia tidak lebih seperti wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.
B.
Perkembangan-Perkembangan
dan Tokoh Jabariyah
Persoalan yang menarik untuk
dicermati, mana yang lebih dahulu Muncul, Qadariyah atau Jabariyah? Jawaban
pertanyaan ini sulit ditentukan, ibarat mempertanyakan “ayam dan telur” mana di
antara kedua nya yang lebih dahulu. Tetapi, untuk menjadi bahan analisis ada
baiknya kita melihat kondisi sosial masyarakat Arab dan lingkungannya. Menurut
Harun Nasution, bangsa Arab kelihatannya sudah terbiasa dengan paham Jabariyah,
dan tanpa dikemas dalam bentuk teologis sekalipun
watak Jabariyah bangsa Arab tampak sudah melekat dalam diri mereka. Hal ini
disebabkan bangsa Arab pada waktu itu bersifat sederhana dan jauh dari ilmu
pengetahuan, terpaksa menye suaikan diri dengan suasana padang pasir, panas
matahari, kering ke rontang, dan tanah yang gundul. Dalam situasi demikian,
mereka tidak banyak melihat jalan untuk merobah sekeliling mereka sesuai dengan
keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tak kuasa mengadapi
kesulitan-kesulitan hidup yang ditimbulkan oleh suasana padang pasir. Dalam
kehidupan sehari-hari mereka banyak bergantung kepada kehendak alam, dan ini
berimplikasi pada munculnya sikap fatalistik.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap
fatalistik merupa kan fenomena umum bagi bangsa Arab tempo dahulu disebabkan
faktor alam dan lingkungannya. Alam dan lingkungannya yang memaksa mereka
untuk memiliki tabiat fatalisme dan menyandarkan berbagai persoalan sepenuhnya
kepada Tuhan. Dalam perspektif ilmu sosiologi, relasi
antara fatalisme dengan kondisi lingkungan sosial sedikit banyak mendapat
pembenaran Seperti halnya dengan “kemiskinan truktural yakni kemiskinan yang
diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu
tidak memberikan peluang untuk bisa terlibat dalam menggunakan sumber-sumber
daya ekonomi.
Paham Jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham kemudian
disebarkan oleh Jahm bin Shofwan dari Khurasan Nama Jahm bin Shafwan yang
terdapat dalam aliran Jabariyah ini adalah nama yang sama dengan Jahm yang
mendirikan aliran Jaha miyyah dari kalangan Murji’ah ekstrem. Sejarah mencatat, Jahm bin Shafwan turut dalam gerakan perlawanan
terhadap kekuasaan bani Umayyah. Ia kemudian ditangkap dan dihukum mati pada
tahun 131 H. Dan dalam perkembangannya, paham ini dikembangkan oleh tokoh lainnya.
al-Husain bin Muhammad an-Najjar dan Ja’ad bin Dirhar.
a.
Jabariyah
Ekstrem
Menurut al-Syahrastani (479-548 H), aliran Jabariyah dapat dikelompokkan
menjadi dua bagian, kelompok ekstrem (al-Jabariyah al Khalishah) dan moderat
(al-Jabariyah al-Mutawassithah). Di antara tokoh-tokoh Jabariyah ekstrem adalah
Jaad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan, sebagai berikut:
1.
Ja’ad
bin Dirham
Ja’ad bin Dirham adalah guru dari Jahm bin Shofwan, yang kepada nya
dinisbahkan kelompok Jahmiyyah. Akhir hayat Ja’ad bin Dirham mati dibunuh,
konon ia disembelih langsung oleh Khalid bin Abdul lah al-Qasri, Gubernur Iraq
pada masa pemerintahan bani Umayyah, pada saat hari raya idul Adha. Konon
selesai shalat ‘id Adha, Al-Qasri berkhotbah dihadapan kaum Muslimin seraya
mengatakan, “Wahai sekalian manusia, pulanglah kalian lalu sembelihlah binatang
kurban, Semoga Allah menerima ibadah kurban kami dan kalian. Saya akan
menyembelih Ja’ad bin Dirham, karena dia mengatakan bahwa Allah ti dak
mengambil nabi Ibrahim sebagai Khalil dan tidak berbicara kepada Nabi Musa.
Maha Tinggi Allah SWT. Atas apa yang dikatakan oleh Ja’ad bin Dirham.” Lalu
beliau turun dan menyembelih Ja’ad bin Dirham. Secara umum doktrin Ja’ad telah
diadopsi oleh para penerusnya, terutama Jahm bin Shafwan. Al Ghurabi,
menjelaskan beberapa po kok pikiran Ja’ad bin Dirham, sebagai berikut:
(i) Al-Qur’an itu adalah makhluk dan karenanya Al-Qur’an adalah
baru (hadits). Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan kepada Allah.
(ii) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti
berbicara, melihat, dan mendengar. Tuhan juga tidak berbicara kepada Nabi Musa,
dan tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Khalil (kekasih).
(iii) Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.
2.
Jahm
bin Shofwan
Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi sebagai
berikut:
(i)
Manusia
tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempu nyai daya, tidak mempunyai
kehendak sendiri, dan tidak mempu nyai pilihan. Manusia dalam
perbuatan-perbuaannya adalah di paksa, tidak ada kekuasaan, kemauan, dan tidak
pilihan baginya. Perbuatan-perbuatan diciptakan Tuhan di dalam diri manusia,
seperti gerak yang diciptakan Tuhan dalam benda-benda mati. Oleh karenanya,
manusia dikatakan “berbuat” hanyalah dalam arti kiasan, semisal air mengalir,
batu bergerak, matahari terbit dan sebaginya. Segala perbuatan manusia merupakan
perbuatan yang diaksakan atas dirinya, termasuk dalam pelaksanaan kewa jiban
(taklif), menerima pahala dan siksaan.
(ii)
Surga
dan neraka tidak kekal (al-Jannah wa al-När tabidan wa tafniyan).
(iii)
Iman
adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati, dan kufur adalah tidak tahu
tentang Tuhan. Dalam hal ini, pendapatnya sama dengan konsep iman yang diajukan
kaum Murji’ah. (iv) Kalam Tuhan adalah makhluk. Pendapat Jahm tentang Kalam
Allah dan bahwa Allah tidak ber-Kalam adalah sama dengan pendapat yang dianut
oleh kaum Qadariyah.
(iv)
Allah
tidak disifati dengan sifat yang serupa dengan makhluk Allah
Tidak disifati dengan sifat hidup dan tahu. Allah hanya disifati
sifat
Maha Kuasa, Berbuat, dan Mencipta. Ini lantaran segala sesuatu se
lain Allah tidak disifati dengan sifat kuasa (qudrah), berbuat dan mencipta.
162 Dilihat dari beberapa pendapat di atas, paham Jahm bin Shafwan hampir sama
dengan Murji’ah, Mu’tazilah, dan beberapa pendapat Asy’ariyah. Dan, di antara
pendapat-pendapat tersebut, paham bahwa manusia tidak mampu berbuat apa-apa dan
tidak disifati dengan “ke mampuan” apa pun merupakan pendapat Jahm yang paling
populer.
Paham ini sangat berbahaya sebab berimplikasi kepada pandangan
tentang keterpaksaan taklif.
b.
Jabariyah
Moderat
Selain aliran Jabariyah ekstrem (al-Jabariyah
al-Khalishah), al Syahrastäni mencatat pula aliran Jabariyah moderat
(al-Jabariyah al Mutawassithah). Di antara tokoh Jabariyah Moderat, sebagai
berikut:
1.
An-Najjar
Nama lengkapnya al-Hussein bin
Muhammad al-Najjar (w. 230 H). Di antara pendapat-pendapatnya adalah bahwa
Tuhan mencip. Takan segala perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun per
buatan baik, hanya saja manusia mempunyai bagian atau peran dalam mewujudkan
perbuatan-perbuatan itu. Tenaga yang diciptakan dalam
diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbu atan tersebut.
Itulah yang disebut kasb atau acquisition dalam teori Al- Asy’ari. Kemudian
Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar
menyatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata
sehingga manusia dapat melihat Tuhan. Pendapat An-Najjar tentang kasb
mengindikasikan moderasi paham Jabariyah, yang tidak menganggap manusia sebagai
wayang yang gerakannya tergantung pada dalang. Bagi An-Najjar, tenaga yang
dicip takan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan
perbuatan-perbuatannya tersebut. Dalam kaitan ini, mungkin dapat diduga bahwa
pandangan Al-Asy’ari tentang “Kasb” sebagai diilhami oleh paham An-Najjar,
sehingga tidak berlebihan apabila ada yang mengatakan bahwa paham Al-Asy’ariyah
sebagai lebih condong kepada Jabariyah
(baca: Jabariyah moderat).
2.
Ad-Dhirar
Nama lengkapnya adalah Dhirar bin
Amr. Tidak diketahui secara lengkap biografinya. Imam al-Syahrastani memasukkan
Dhirär bin Amr sebagai kelompok Jabariyah moderat, karena Dhirar (dan juga
An-Najjar) memiliki paham moderat yang menengahi paham Qadariyah yang dibawa
oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghailan Dimisqi dengan paham Jabariyah yang dibawa
oleh Jahm bin Shafwan. Pendapat Dhirār tentang perbuatan manusia adalah sama
dengan An-Najjar, yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang
digerakan dalang. Manusia mempunyai bagian dalam perwujudan per buatannya dan
tidak semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatannya. Menurut Dhirar, suatu perbuatan
dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, yakni perbuatan-perbuatan
yang diciptakan Tuhan dan perbuatan yang diusahakan (iktasaba/acquired) oleh
manusia. Dengan kata lain, Tuhan dan manusia bekerjasama dalam mewu judkan
perbuatan-perbuatan manusia. Dan karenanya, manusia tidak
semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatan-perbuatannya. Mengenai paham
tentang melihat Allah di akhirat, ia mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di
akhirat melalui indra keenam (asbata håsah tsädisah lil insane yarā bihā
al-Bāri taalä yawma al-tsawäb fi al-Jannah). la juga berpendapat bahwa hujjah
yang dapat diterima setelah Nabi adalah ijmak saja, sedangkan apa yang
bersumber dari Hadis ahad dipandang tidak dapat dijadikan sumber dalam
menetapkan hukum.
C. Argumen
Kaum Jabariyah
Persoalan yang tidak kalah pentingnya tentang Jabariyah adalah
argumen apa yang dijadikan patokan oleh kaum Jabariyah dalam membangun
pemikirannya? Secara tegas kalangan Jabariyah menyan darkan
pendapat-pendapatnya kepada beberapa ayat Al-Qur'an, sebagai berikut:
Telah disinggung di atas bahwa Jabariyah mengajarkan paham bahwa
manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam hal ini,
pekerjaan hamba dinafikan secara hakikat yang kemudian disandarkan kepada
Allah, Ini berarti manusia tidak mempunyai kebebasan dan ke merdekaan dalam
menentukan kehendak dan perbuatannya, tetapi terikat pada kehendak mutlak
Tuhan.
Dalil Aqli dan Dalil Naqli dalam aliran jabariah Landasan Aqli(alas
an yang bersandar pada akal atau rasional semata) sedangkan Landasan Naqli
al-quran dan hadis yang menjadi pegangan sekaligus alas an yang menjadi aliran
teologi ini.
1)
Dalil
dalil naqli sebagai aliran jabariah
QS.ash-Shafaat
ayat 96:
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Artinya : (padahal
Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu)
QS.al-Anfal
ayat 17 :
فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ
وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ
رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ
عَلِيمٌ
Artinya: “(yang
sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh
mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah
yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk
memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
QS.al-Hadid
ayat 22 :
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Artinya: “Suatu
bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
QS.al-insan 30
: وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ
ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya: “Dan
kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah swt.,
sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”
Sesungguhnya
Allah Swt lebih mengetahui lagi maha bijaksana)
2)
Adapun
dalil dalil Aqli yang di jadikan landasan bagi kaum jabariyah
a.
Makhluk
tidak boleh mempunyai sifat sama dengan sifat tuhan,dan kalau itu terjadi,berarti
menyamakan tuhan dengan makhluknya.
b.
Mereka
menolak keadaan Allah maha hidup dan maha mengetahui,namun ia mengetahui
keadaan allah yang maha kuasa.
c.
Allah
yang berbuat dan menciptakan oleh karena itu, makhluk tidak mempunyai kekuasaan.
d.
Manusia
tidak memiliki kekuasan sedikit apapun, manusia tidak dapat dikatakan mempunyai
kemampuan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nama Jabariyah berasal dari kata “jabara” yang mengandung
arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Dalam bahasa Inggris,
Jabariyah disebut fatalisme, yaitu paham yang menyebutkan bahwa
perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan.
Paham Jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham
kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shofwan dari Khurasan Nama Jahm bin Shafwan
yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini adalah nama yang sama dengan Jahm yang
mendirikan aliran Jaha miyyah dari kalangan Murji’ah ekstrem. Sejarah mencatat,
Jahm bin Shafwan turut dalam gerakan perlawanan terhadap kekuasaan bani
Umayyah. Ia kemudian ditangkap dan dihukum mati pada tahun 131 H. Dan dalam
perkembangannya, paham ini dikembangkan oleh tokoh lainnya. Al-Husain bin
Muhammad an-Najjar dan Ja’ad bin Dirhar.
Ada 2 golongan Aliran Jabariyah, yaitu Jabriyah Ekstrem dengan Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Sofwan sebagai tokoh populer dalam aliran ini, paham ini sangat berbahaya sebab berimplikasi kepada pandangan tentang keterpaksaan taklif. Kemudian Jabariyah moderat dengan An Najar dan Ad Dhirar tokohny
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin,
Nunu. Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan:Ilmu Kalam
Tematik, Klasik dan Kontemporer (Jakarta: Prenada Media. 2016)
Yusuf, M Yunan.
Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam: Dari Khawarij ke Buya
Hamka hingga Hasan Hanafi. (Jakarta:Kencana Prenada, 2016)
Nasution, Harun,
Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: UI
Press, 1986)
Syahristani, al Milal wa al Nihal (Beirut:Dar al Fikr, 2008)
https://www.kompasiana.com/azizah4304/5bb2fda26ddcae5e68053e92/argumen-tentang-jabariah?page=all (diakses Selasa
6 Oktober 2020, 16.45 WIB)
[1]
Abu al-Fath Muhammad Abdul Karim bin Abi Bakr Ahmad al-Syahrasytani. Al-Milal
wa al-Nihal, Beirut: Dar el-Fikr, 2008, hlm. 69.

0 Komentar